Darilaut – Sejak muncul dari dasar laut pada akhir 1920-an, tubuh Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda berkembang melalui siklus panjang pertumbuhan, erupsi, runtuh pada 2018, pembangunan kembali dan tumbuh hingga 2026.
“Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali,” kata Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dini Nurfiani, Senin (21/9).
Dini menjelaskan perjalanan Anak Krakatau memperlihatkan bahwa gunung api merupakan sistem yang dinamis.
Anak Krakatau sedang menjalani babak baru dalam perjalanan geologinya. Setelah sebagian tubuh gunung runtuh ke laut pada Desember 2018, aktivitas erupsi yang berlangsung setelahnya secara bertahap kembali membangun tubuh gunung.
”Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru,” ujar Dini seperti dikutip dari Brin.go.id.
Penelitian BRIN, University of Birmingham, ITB, Penn State Univerity, British Geological Survey, University of Oxford, serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat proses pertumbuhan tersebut masih berlangsung hingga 2026.




