Muazam mengatakan perangkat AIS beroperasi menggunakan sistem Time Division Multiple Access (TDMA), yang memungkinkan mengirimkan sekitar 2000 pesan per menit. Pesan yang dikirim oleh perangkat AIS dari kapal dapat diterima oleh sesama kapal, stasiun penerima AIS berbasis darat (terrestrial), dan stasiun penerima AIS berbasis satelit (space-borne AIS).
“AIS yang dibawa ke luar angkasa memiliki keunggulan dalam radius penerimaan pesan karena ketinggiannya,” kata Muazam, Senin (10/6).
Hal ini yang melatarbelakangi misi satelit LAPAN-A2 dan LAPAN-A3 untuk melakukan pemantauan kapal di Indonesia dengan cara membawa muatan AIS Receiver. Misi ini juga diterapkan pada satelit Nusantara Earth Observation -1 (NEO-1) dan Nusantara Equatorial IoT (NEI).
Data-data AIS dari satelit LAPAN-A2 dan LAPAN-A3 turut berkontribusi dalam penjagaan dan pengawasan perairan Indonesia.
Data AIS ini, kata Muazam, sudah digunakan oleh banyak pihak diantaranya ISRO (Badan Antariksa India), The United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) Indonesia Office, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Keamanan Laut, Kementerian Perhubungan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi serta internal BRIN.
Seperti pada Maret 2016, Pusat Riset Teknologi Satelit turut membantu keberadaan Kapal Brahma-12 atas kasus penculikan anak buah kapal oleh perompak. Lalu, pada Maret 2017, turut terlibat dalam penyajian data lintasan Kapal MV Lyric Poet yang kandas di Laut Natuna dan penyajian data lintasan Kapal Caledonian Sky yang merusak terumbu karang di Raja Ampat.




