Mayoritas udang dibudidayakan di negara berkembang dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi lokal. Kebutuhan protein berupa ikan akan terus meningkat hingga tahun 2030.
Oleh sebab itu negara-negara produsen perikanan utama seperti Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan volume ekspor hingga 250% pada tahun 2024.
Langkah ini dapat membantu ekonomi lokal dan nasional, tetapi harus dilakukan hati-hati, agar tidak melemahkan upaya global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Untuk mengatasi hal tersebut, YKAN bersama Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, memperkenalkan tambak Shrimp-Carbon Aquaculture (SECURE) di Delta Berau.
Program tambak SECURE dilakukan dengan mendesain ulang tambak udang ke ukuran yang lebih kecil dan menggabungkannya dengan restorasi hidrologi mangrove.

Melalui program ini, telah merestorasi 10 hektare tambak udang aktif menjadi 2 hektare tambak udang.
Sementara areal sisanya, sebesar 8 hektare digunakan sebagai areal restorasi mangrove yang akan mendukung pakan alami untuk udang dan ikan, serta mengurangi emisi karbon.
Menurut Ilman Kabupaten Berau memiliki ekosistem mangrove seluas 86.000 hektare, terluas di Provinsi Kalimantan Timur. Pembukaan tambak udang yang tidak terencana menjadi pendorong utama deforestasi mangrove di sana.





Komentar tentang post