Angka ini menunjukkan bahwa masalah kontrol gula darah masih menjadi tantangan besar, termasuk di daerah.
Temuan ini menjadi alarm penting bagi masyarakat Indonesia, terutama karena diabetes kini semakin banyak menyerang usia produktif. Penyakit yang kerap disebut “silent killer” ini ternyata juga dapat diam-diam merusak kesehatan mata.
Ulkus kornea infeksius sendiri merupakan luka terbuka pada lapisan bening paling depan mata, yaitu kornea. Kondisi ini dapat muncul akibat infeksi bakteri, jamur, maupun mikroorganisme lain.
Gejalanya sering berupa mata merah, nyeri hebat, penglihatan kabur, sensitif terhadap cahaya, hingga keluarnya cairan dari mata.
Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah pada penderita diabetes, proses penyembuhan luka jauh lebih lambat. Gula darah yang tinggi merusak pembuluh darah kecil, mengganggu saraf kornea, serta menurunkan kemampuan tubuh melawan infeksi.
Secara medis, kadar gula darah tinggi dalam waktu lama memicu pembentukan zat berbahaya bernama advanced glycation end-products (AGEs). Zat ini mempercepat peradangan, meningkatkan stres oksidatif, dan merusak jaringan kornea.
Akibatnya, mata menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan lebih sulit sembuh setelah mengalami luka.
Masalahnya, kondisi ini sering berkembang tanpa gejala awal yang jelas. Banyak pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika penglihatan sudah menurun drastis.




