Pelaut Filipina itu dievakuasi dari kapalnya awal bulan ini, sebelum pengumuman rencana evakuasi.
Ia menggambarkan ketidakpastian terjebak di tengah zona perang sebagai situasi “unik” yang seringkali dapat menantang kesehatan mental dan emosional awak kapal.
“Saya rasa tidak ada yang benar-benar bisa memahami bagaimana rasanya berada di zona perang kecuali mereka pernah berada di sana,” ujarnya.
“Karena seperti yang saya katakan, Anda tidak tahu kapan perang akan berakhir, Anda tidak tahu kapan kapal Anda dapat berlayar dengan aman. Setiap hari, ada serangan rudal, serangan drone, ada peringatan, peringatan seluler, dan Anda benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Memberikan jaminan kepada mereka yang masih terjebak di kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz adalah cara terbaik untuk membantu mereka, tegas perwira marinir itu, “membantu awak kapal berarti membantu mereka mengurangi stres dalam hal stres ekonomi, stres operasional, dan sebagainya”.




