Air datang, kotoran dan berbagai macam sampah pun juga ikut menghampiri.
Genangan air ini tidak hanya mengganggu mobilitas warga, namun juga menjadi sarang penyakit, seperti deman berdarah dan penyakit kulit lainnya.
Setiap saat warga harus bertahan dari ketidakpastian mengenai bagaimana hari-hari mereka di masa yang akan datang.
Ketika hujan turun dalam waktu yang lama, warga biasanya akan berjaga-jaga mengamankan barang-barang berharga mereka terlebih dahulu. Barang-barang seperti sofa, kasur, dan elektronik akan diboyong ke tempat yang lebih tinggi.
Ketika banjir yang tergenang masih mencapai mata kaki, masyarakat memilih untuk tetap bertahan di rumah masing-masing untuk menjaga barang berharga.
Mereka bahkan merakit kayu-kayu untuk dibuat semacam panggung di dalam rumah yang difungsikan sebagai tempat tidur dan tempat beraktivitas selama banjir masih menggenangi tempat tinggalnya.
Namun, beberapa hari lalu, ketika hujan lebat mengguyur daerah tersebut selama berhari-hari membuat debit air makin naik hingga mencapai batas leher orang dewasa.
Bahkan beberapa rumah warga hanya menyisakan atap. Pemukiman yang tadinya padat akan penduduk tersebut berubah menjadi layaknya pemandangan sungai.
Masyarakat yang tadinya bertahan di dalam rumah dan beraktivitas di atas panggung rakitan, mau tidak mau harus meninggalkan rumah dan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.




