Limbah tongkol jagung diolah menjadi dua bentuk material, yaitu abu tongkol jagung (Corn Cob Ash/CCA) dan serbuk tongkol jagung (Corn Cob Powder/CCP) sebagai substitusi sebagian semen dan pasir dalam pembuatan panel ventilatif bangunan.
Hasil pengujian laboratorium menunjukkan angka yang mengejutkan. Penggunaan material limbah jagung CCA ini membuat panel bangunan menjadi jauh lebih ringan—berkurang 20% sedangkan CCP mencapai 40% dibandingkan roster beton konvensional. Meski ringan, kekuatannya tidak main-main.
“Data kami menunjukkan bahwa varian CCA 10% mampu mencatat kekuatan tekan hingga 46,18 Mpa,” ujar Niniek.
”Angka ini melampaui standar beton padat kelas I (SNI), yang berarti material ini sangat layak dan aman untuk diaplikasikan pada struktur bangunan ringan.”
Eco-cooler bekerja dengan memanfaatkan desain ventilasi yang mengandalkan prinsip aerodinamika untuk menurunkan suhu ruang secara alami.
Artinya, menurut peneliti, rumah bisa tetap sejuk meskipun cuaca di luar terik, sehingga mampu menekan penggunaan pendingin ruangan (AC) yang boros listrik.
Langkah ini adalah implementasi nyata dari Ekonomi Sirkular. Peneliti tidak hanya memberikan solusi bagi masalah limbah pertanian di Gorontalo, tetapi juga menciptakan produk dengan nilai tambah tinggi yang mendukung efisiensi energi bangunan tropis.




