Transformasi ini tercatat sebagai bagian dari upaya BRI menjadi lebih customer-centric dan efisien dalam layanan perbankan.
Kondisi di lapangan, implementasi tidak seragam. Banyak pedagang kaki lima kini menerima pembayaran lewat QRIS, seorang penjual sate di bilangan pusat kota bilang transaksi non-tunai memudahkan pencatatan dan menurunkan risiko uang salah.
Studi empiris tentang QRIS menunjukkan adopsi yang meningkat secara nasional karena kemudahan penggunaan dan dukungan regulasi Bank Indonesia. Namun penerapan pada UMKM masih dipengaruhi oleh literasi keuangan dan akses infrastruktur. Artinya: teknologi tersedia, tetapi pemanfaatannya sangat tergantung pada konteks lokal.

Mahasiswa sebagai pengguna aktif digital banking memberikan perspektif yang menarik. Dari wawancara dengan dua mahasiswa di Gorontalo, terlihat dua sisi pengalaman.
Rian, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo, mengatakan:
“Saya hampir selalu pakai mobile banking BRI untuk transfer, bayar tagihan, dan QRIS saat jajan. Praktis, tinggal scan. Yang jadi masalah kadang jaringan di beberapa sudut kota masih lelet, dan beberapa penjual belum paham cara pakai QRIS dengan benar.”
Pernyataannya sejalan dengan temuan penelitian lokal yang menemukan bahwa penggunaan mobile banking di kalangan mahasiswa Gorontalo meningkat tetapi dipengaruhi kualitas jaringan dan tingkat literasi digital.




