Darilaut – Lautannya membentang luas ribuan kilo meter di Samudra Pasifik. Itulah Tuvalu, salah satu negara terkecil di dunia, dengan luas daratan hanya 26 kilometer persegi.
“Bagi Tuvalu, kenaikan permukaan laut bukanlah ancaman masa depan, melainkan kenyataan saat ini,” kata Perdana Menteri Tuvalu, Feleti Teo, kepada Majelis Umum PBB pada hari Jumat (25/9).
Ia memperingatkan bahwa kecepatan dan skala tindakan internasional masih jauh dari apa yang dibutuhkan oleh negara-negara kepulauan yang rentan.
Perubahan iklim menjadi ancaman eksistensial terbesar bagi Tuvalu. Negara kepulauan di Pasifik tersebut melindungi wilayah fisik maupun identitasnya di tengah perubahan lingkungan akibat krisis iklim.
Teo mengatakan bahwa Tuvalu telah mereklamasi 15,3 hektare lahan yang ditinggikan dan bebas banjir di pulau ibu kota, Funafuti, melalui proyek adaptasi pesisir, dan saat ini sedang mereklamasi 10 hektare lahan tambahan. Hal itu merupakan penyesuaian yang signifikan.
Pada saat yang sama, Tuvalu memanfaatkan teknologi digital untuk mempertahankan kedaulatan, institusi, dan identitas nasionalnya, termasuk melalui inisiatif yang dirancang untuk melestarikan budaya dan warisan sejarahnya dalam bentuk digital.
Perdana Menteri menyambut baik Deklarasi Politik PBB tentang Kenaikan Permukaan Laut yang disahkan oleh negara-negara anggota, dan menyebutnya sebagai “pencapaian monumental yang menggembirakan” bagi negara yang selama ini berada di garis depan upaya mewujudkan kesepakatan tersebut.



