Studi memperlihatkan 94,69 persen UMKM mengalami penurunan penjualan di mana sektor terdampak paling besar yaitu sektor pengolahan, penyediaan akomodasi makanan minuman dan perdagangan.
Di sisi produksi, tekanan UMKM terbesar selama pandemi berasal dari kenaikan biaya bahan baku dan upaya mempertahankan tenaga kerja. “Dengan segala daya upayanya, hampir 72,02 persen UMKM menyatakan tidak dapat mempertahankan usahanya hingga Oktober 2020,” katanya.
Melalui hasil studi ini diharapkan bisa mendiagnosis seberapa besar daya tahan UMKM dalam menghadapi pandemi dan identifikasi strategi pemulihan kinerja. Juga memetakan masalah dan upaya menyelamatkan UMKM yang terdampak.
“Hal ini dilakukan agar sumber pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dari sektor UMKM sebagai penopang produksi nasional dapat terpenuhi,” ujar Agus.*





Komentar tentang post