Darilaut – Sebagian besar tsunami dihasilkan oleh gempa bumi bawah laut. Penyebab tsunami lain yang lebih jarang terjadi adalah gunung berapi bawah laut atau pesisir dan/atau longsor.
Organisasi Meteorologi Internasional (WMO) menyoroti gempabumi sangat dahsyat di Rusia, berkekuatan 8,8 skala Richter. Gempa bumi tersebut melanda lepas pantai timur Semenanjung Kamchatka Rusia pada 29 Juli pukul 23.24 GMT.
Dalam siaran pers, WMO mengingatkan dua contoh kuat yang menggambarkan kekuatan sekaligus tantangan sistem peringatan dini terpadu.
Pada tahun 2011, gempa bumi berkekuatan 9,0 melanda lepas pantai Jepang, memicu tsunami dahsyat yang merenggut lebih dari 18.000 jiwa dan menyebabkan bencana nuklir Fukushima.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengeluarkan peringatan ekstensif, dan sistem pemantauan tsunami global diaktifkan dalam hitungan menit, menunjukkan nilai infrastruktur peringatan dini yang tangguh.
Kedua, sebaliknya, gempa bumi Sulawesi 2018 di Indonesia, berkekuatan 7,5, memicu tsunami lokal di Teluk Palu, yang diperparah oleh longsor bawah laut.
Meskipun sistem telah tersedia, peristiwa tersebut mengungkap kesenjangan serius dalam deteksi dan komunikasi cepat, yang menyoroti kebutuhan mendesak untuk memperkuat sistem peringatan dini menyeluruh, terutama untuk kejadian di dekat lokasi gempa.




