Dalam persinggahan di Larantuka, Flores Timur, tim Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa bekerjasama dengan Yayasan Missol Baseftin menyelenggarakan diskusi terbatas tentang konservasi dan destructive fishing. Diskusi ini berlangsung di atas Kapal Layar Motor (KLM) Pinisi Pusaka Indonesia, saat sandar di Pelabuhan Larantuka, Sabtu (13/4).
Salah seorang volunteer Tim Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa, Ugi Sugiarto mengatakan, diskusi di Larantuka memperkaya data dan kajian ekspedisi untuk menjadi resume kepada pemerintah agar masalah konservasi laut dan penangkapan ikan tidak ramah lingkungan (destructive fishing) bisa menjadi perhatian bersama para pihak.
“Isu ini juga kami temukan di Raja Ampat dan Maluku Utara, sehingga pemerintah nasional perlu membuat kebijakan dan program yang bertujuan melindungi sumberdaya terumbu karang dari ancaman kerusakan akibat aktivitas manusia,” kata Ugi.
Ketua Bidang Konservasi Laut dan Keanekaragaman Hayati, DPP Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO), Ir Ikram M Sangadji MSi mengatakan, upaya pengawasan sumberdaya laut terutama terumbu karang membutuhkan partisipasi masyarakat.
“ISKINDO akan terus mendukung inisiatif dan kampanye untuk melindungi sumberdaya terumbu karang Indonesia yang kondisinya kian kritis, tinggal 6 persen yang dalam kondisi baik,” kata Ikram. yang juga Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).*





Komentar tentang post