Gelombang Panas Laut dan Perubahan Iklim

Keterkaitan Osilasi iklim dengan kejadian gelombang panas laut. GAMBAR: Holbrook et al., 2019/OSEANA

Darilaut – Gelombang panas laut (GPL) terutama disebabkan oleh kombinasi kondisi spasial dan temporal yang berbeda dari kondisi samudera dan atmosfer. Termasuk anomali fluks panas udara-laut dan fluktuasi peningkatan panas di laut.

Selain itu, mode variabilitas atmosfer-samudera skala besar seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), dan North Atlantic Oscillation (NAO) juga dapat meningkatkan intensitas, durasi, dan luasan fenomena gelombang panas laut.

Penelitian tentang deteksi gelombang panas laut sebagian besar menggunakan observasi satelit dan pengukuran suhu permukaan laut (sea surface temperature/SST) secara in situ untuk menggambarkan peristiwa gelombang panas laut.

Berdasarkan data suhu laut dari tahun 1925 hingga 2016, Oliver et al. (2018) menemukan bahwa frekuensi dan durasi kejadian rata-rata global fenomena gelombang panas laut, meningkat masing-masing sebesar 34% dan 17%, di mana menghasilkan lonjakan sekitar 54% dari jumlah global hari kejadian gelombang panas laut per tahun.

Pada skala lokal, gelombang panas laut dapat diinduksi oleh anomali pemanasan permukaan laut. Misalnya, disebabkan oleh perubahan suhu udara, angin atau awan, atau sebagai akibat dari arus horizontal atau vertikal dan pencampuran di laut sekitarnya.

Faktor penggerak gelombang panas laut lokal ini sering dikaitkan dengan osilasi iklim skala besar, dan Holbrook et al. (2019) telah memetakan hubungan semacam itu secara global untuk gelombang panas laut yang terjadi antara tahun 1982 hingga 2016.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa beberapa gelombang panas laut paling intens telah terjadi di Samudera Pasifik tropis selama peristiwa El Niño.

Pada fase hangat dari ENSO ini, terjadi pemanasan episodik dan pendinginan perairan permukaan Pasifik tropis.

Meskipun pusat ENSO ada di perairan tropis Pasifik timur, analisis Holbrook et al. (2019) menunjukkan bahwa pengaruh geografisnya jauh lebih luas.

Fenomena ENSO bukan hanya penggerak gelombang panas laut terkuat di sebagian besar Samudra Pasifik, tetapi juga di sebagian besar wilayah Samudra Hindia, Atlantik, dan Selatan (lihat Gambar).

Kemungkinan besar penyebabnya adalah adanya telekoneksi (teleconnections) yang menghubungkan jalur atmosfer dan samudera di mana sinyal iklim dapat dikomunikasikan sejauh ribuan kilometer.

Lautan memanas pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. IPCC (2014) Suhu permukaan laut telah meningkat dengan laju hampir 0,6°C per abad sejak tahun 1880.

Pemanasan ini pada gilirannya meningkatkan kemungkinan kejadian fenomena gelombang panas laut.

Sumber: Dewi Surinati, Jurnal Oseana, Volume 46, Nomor 2 Tahun 2021, dengan judul “Gelombang Panas Laut”.

Exit mobile version