Darilaut – Ekosistem laut telah berevolusi dalam kisaran tertentu, dan dapat beradaptasi dengan kondisi perubahan iklim.
Namun, gelombang panas laut bermanifestasi sebagai peristiwa ekstrem yang mengarah pada kerentanan ekosistem.
Dalam iklim yang lebih hangat, kita lebih mungkin mengalami hal-hal ekstrem yang menyebabkan kerentanan ini.
Gelombang panas laut dapat dengan cepat mengganggu ekosistem laut dan ekonomi yang bergantung padanya.
Oleh karena itu, pemahaman terkait penyebab gelombang panas laut termasuk mekanisme dan perubahannya serta mengetahui cara memprediksi gelombang panas laut dengan akurasi yang tinggi adalah fokus penelitian terkait gelombang panas laut saat ini.
Holbrook et al. (2019) menyajikan analisis komprehensif pertama kali gelombang panas laut di seluruh dunia. Mereka mengidentifikasi faktor driver dari peristiwa gelombang panas laut ini, serta hubungan antara gelombang panas laut dan osilasi iklim yang diketahui.
Salah satu motivasi utama untuk memahami pemicu gelombang panas laut untuk memprediksi peristiwa ini.
Upaya semacam itu juga dapat memanfaatkan penelitian sebelumnya, untuk memprediksi suhu laut secara lebih umum.
Fenomena ENSO telah diidentifikasi sebagai fenomena yang dapat diprediksi, sehingga memungkinkan prediksi variabel atmosfer dan kelautan seperti curah hujan dan suhu permukaan laut hingga satu tahun sebelum atau sesudahnya (Quan et al., 2006; Jacox et al., 2017).
Perubahan iklim jangka panjang merupakan pemicu terjadinya peningkatan kekuatan dan frekuensi fenomena gelombang panas laut.
Suhu lautan selama fenomena gelombang panas laut jauh lebih tinggi dari suhu rata-rata di perairan tersebut. Karakteristik fenomena gelombang panas laut akan berubah ketika laut menghangat dengan adanya perubahan iklim.
Namun, penelitian lain oleh Oliver et al. (2018) dan Frölicher et al. (2018) yang menggambarkan bagaimana gelombang panas laut dipengaruhi oleh perubahan iklim, telah mendefinisikan bahwa peristiwa ini relatif terhadap kondisi suhu lautan selama periode waktu tertentu.
Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa perubahan iklim sangat meningkatkan intensitas, frekuensi, dan persistensi gelombang panas laut.
Namun, temuan tersebut sebagian besar mencerminkan suhu rata-rata laut naik, tetapi variabilitas di sekitar suhu rata-rata tetap relatif stabil.
Sumber: Dewi Surinati, Jurnal Oseana, Volume 46, Nomor 2 Tahun 2021, dengan judul “Gelombang Panas Laut”.
