Darilaut – Kejadian endemisme di perairan laut, relatif sedikit. Karena itu, kajian mengenai endemisme di perairan laut menjadi menarik.
Alasannya adalah karena pada dasarnya seluruh perairan laut di dunia tersambung satu sama lain, sehingga memungkinkan larva biota laut tersebar ke seluruh dunia.
Salah satu dari biota laut yang dikenal sebagai spesies endemik di perairan Indonesia adalah ikan capungan Banggai (Pterapogon kauderni).
Ikan capungan Banggai awalnya diketahui memiliki sebaran yang sangat terbatas, yaitu di perairan Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah dan sedikit populasi diketahui di lepas pantai Pulau Taliabu, Maluku Utara.
Kepulauan Banggai memiliki lahan terumbu karang di sepanjang garis pantai dan di beberapa gugus pulau yang terdiri atas 72 pulau, yaitu pulau-pulau besar dan kecil seperti, Pulau Banggai, Pulau Labobo, dan Pulau Bangkulu.
Penelitian untuk mengetahui rentang penyebaran endemik ikan capungan Banggai berdasarkan hasil survey di 159 lokasi pada lebih dari 50 pulau periode 1998 – 2004 (Vagelli, 2004), wilayah sebaran ikan ini kurang lebih seluas 5.500 km2 (Vagelli, 2011).
Akan tetapi, habitat yang tersedia adalah sepanjang pantai kira-kira 300 km dari 32 pulau, terbatas hanya pada area seluas 30 km2 (Vagelli, 2008).
Sebanyak sepuluh wilayah teridentifikasi sebagai habitat ikan capungan Banggai, yaitu lima wilayah berada yang masuk dalam kecamatan Banggai (Popisi, Bone Baru dan Tinakin Laut di Pulau Banggai). Kemudian, satu wilayah yang masuk dalam kecamatan Labobo (Bontosi di Pulau Labobo), empat wilayah yang termasuk dalam kecamatan Bokan Kepulauan (Kokundang di Pulau Tumbak, Toado di Pulau Meilis, Pulau Kombongan dan Pulau Teropot) (Vagelli, 2004).
Secara umum, sebaran ikan capungan Banggai tersebut berada di dalam wilayah Marine Protected Area (MPA) Banggai yang secara resmi ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 53/KEPMEN-KP/2019 pada tanggal 27 November 2019.
Berdasarkan surat keputusan tersebut, cakupan kawasan konsevasi ini meliputi Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut dengan luas sekitar 8.566,49 km2.
Ikan capungan Banggai hidup di perairan yang terlindung, seperti teluk, lebih menyukai area perairan dekat dasar.
Ikan capungan Banggai tergolong jenis ikan yang bersifat teritorial, yaitu menempati suatu wilayah secara permanen dengan pergerakan yang relatif pasif (Vagelli, 2011).
Ikan ini biasanya aktif pada siang hari pada kelompok yang terdiri dari 20 individu atau lebih. Makanan utama ikan capungan Banggai adalah berupa krustasea yang bersifat planktonik.
Di habitat aslinya, ikan capungan Banggai hidup di ekosistem terumbu karang dangkal dan padang lamun.
Di daerah terumbu karang, ikan ini mendiami sebagian besar zona fisiografik dengan perairan jernih dan jarak pandang >20 m serta arus rendah hingga sedang, tetapi terbatas pada kisaran kedalaman sempit (<3 m).
Habitat lainnya adalah daerah padang lamun dengan jarak pandang rendah (2 m atau kurang), umumnya di teluk tertutup yang tenang dengan dasar berlumpur dan partikel tersuspensi tingkat tinggi.
Walaupun jarang, ikan ini juga masih ditemukan teluk yang lebih kecil dengan air keruh, dasar berlumpur dengan alga berkapur yang diselingi montikel dan karang bercabang.
Distribusi kedalaman ditemukannya ikan capungan Banggai adalah antara 0,5 – 6 m, dan paling banyak ditemukan pada kedalaman 1,5 – 2,5 m.
Hasil pengamatan di perairan Kepulauan Banggai, ikan ini ditemukan pada kedalaman rata-rata 1,76 m dan kedalaman maksimum 4,5 m.
Pengamatan lainnya yang juga dilakukan di Kepulauan Banggai, ikan capungan Banggai ditemukan pada kedalaman 0,6 – 3,4 m dengan rata-rata 1,66 m (Pulau Banggai) dan berkisar 0,5 – 2 m dengan rata-rata 1,32 m (Pulau Peleng).
Sumber: Ucu Yanu Arbi, Jurnal Oseana, Volume 47, Nomor 1 Tahun 2022: 1–11 dengan judul “Endemisme Spesies Biota Perairan: Studi Kasus pada Ikan Capungan Banggai (Pterapogon kauderni)”.
