Salah satu konsep yang paling terkenal adalah ‘Tagaroa’, dewa laut yang dianggap sebagai pencipta dan penguasa laut serta segala kehidupan di dalamnya.
Konsep ini bukan hanya sebuah cerita mitologis, tetapi mencerminkan bagaimana masyarakat tradisional memandang laut sebagai entitas hidup yang sakral dan penuh makna.
Di Minahasa disebut Tagaroa (Tou Wangker), namun orang-orang biasa menyebutnya Apo Tasik yang artinya Dewa Laut atau Leluhur penguasa lautan. Di Sangihe Talaud disebut Taghaloang, di Philipina menyebutnya Angalo.
Pada tahun 2015, ruang sempit bernama ‘Napo Tagaroa’ di gedung tua Fakultas Perikanan Unsrat, menjadi saksi bisu sejarah perancangan program pendidikan ilmu kelautan di Universitas Sam Ratulangi Manado.
Dalam konteks Indonesia, gagasan tentang laut sebagai kekuatan spiritual dan pusat kehidupan sangat melekat dalam berbagai kebudayaan lokal, seperti mitos di Maluku, Papua, dan kepulauan Nusa Tenggara.
Laut dianggap bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga ruang yang mengandung kekuatan gaib dan nilai-nilai moral yang mengatur hubungan manusia dengan alam.
Pemahaman sedemikian ini memberikan dimensi baru dalam pembentukan kebijakan kelautan Indonesia, yaitu bahwa pengelolaan laut tidak bisa hanya didasarkan pada aspek teknis dan ekonomi semata, melainkan juga harus memperhatikan nilai-nilai kultural dan spiritual yang melekat dalam masyarakat pesisir. Dengan demikian, konsep-konsep seperti Tagaroa mengingatkan kita akan pentingnya harmonisasi antara manusia, laut, dan alam semesta dalam kebijakan kelautan yang berkelanjutan.




