Selain itu, mengintegrasikan nilai-nilai kultural dalam kebijakan kelautan dapat memperkuat legitimasi sosial dan kepatuhan masyarakat terhadap aturan yang dibuat, karena aturan tersebut dianggap sejalan dengan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Pendekatan ini membuka ruang dialog antara ilmu modern dan kearifan tradisional, sehingga kebijakan kelautan menjadi lebih inklusif dan adaptif terhadap kondisi lokal.
Meski demikian, studi tentang konsep Tagaroa dan nilai-nilai kultural sejenis dalam konteks kebijakan kelautan Indonesia masih sangat terbatas.
Penelitian yang lebih mendalam diperlukan untuk menggali potensi integrasi nilai-nilai tersebut dalam perencanaan dan pengelolaan laut secara nasional. Dengan demikian, upaya ini dapat memperkaya perspektif kebijakan kelautan yang selama ini dominan oleh aspek politik, ekonomi, dan hukum internasional.
Secara keseluruhan, pengenalan konsep Tagaroa dan nilai-nilai kultural terkait laut menandai pentingnya pendekatan multidimensional dalam kebijakan kelautan Indonesia.
Pendekatan ini tidak hanya memperkuat aspek kedaulatan dan pembangunan, tetapi juga menjaga keutuhan hubungan manusia dengan laut sebagai bagian dari warisan budaya dan identitas bangsa.
Pustaka: https://www.laros.id/fakta-menarik/pr-2394854624/kisah-dewa-laut-tagaroa-yang-terlupakan-mungkinkah-mahluk-mitologi-minahasa-ini-raja-atlantis-sebenarnya?page=3




