Kodrat lain, setelah sekian tahun menetap d Kanaan, Nabi Ibrahim dan Siti Hajar berjalan dengan perjalan yang cukup jauh bersama bayinya Ismail menuju tempat yang belum di ketahui.
Pengorbanan dan Kesabaran Siti Hajar
Bermingu-minggu lamanya menempuh perjalanan mengikuti arah takdir yang dititahkah kepada Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Setelah melewati banyak perkampungan, pemukiman dan lembah-lembah luas dengan bukit-bukit yang curam, gurun pasir yang luas dan tak berpenghujung ditambah dengan terik matahari. Mereka berjalan tanpa bicara satu kata pun, ditambah lagi jarak antara mereka tidak saling berdekatan, Nabi Ibrahim di depan sendirian sedangkan Siti Hajar dan Ismail bersama.
Pada suatu hari, dalam perjalanan, Ismail yang masih dalam gendongan ibunya menangis, seolah-olah merasakan ibundanya sedang dalam guncangan kesendirian, guncangan pemikiran dan perasaan, wajahnya pucat, Ia butuh air minum.
Namun, air, sama sekali sudah tidak ada dengan tetap mencari dan mencari. Barangkali masih ada sedikit air dalam tumpukan barang-barang perbekalan. Mendengar tangisan Ismail, saat itulah Nabi Ibrahim memperlambat laju untanya melihat istrinya begitu panik dan langsung mendekat ke arah Hajar tanpa berkata sekata pun, mengulurkan botol air yang dibawanya.




