Di dalamnya masih ada tersisa sedikit air, Siti Hajar meminum sedikit dan dibasahi wajah dan leher anaknya, dan Ismail kembali tenang. Sepintah wajah Nabi Ibrahim terlihat begitu sedih dan seketika kembali memalingkan wajahnya melanjutkan perjalanan tanpa sepatah kata.
Siti Hajar terus berdoa segala puji dan syukur aku panjatkan kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan anakku yang Maha Mendengar dan Maha Menyayangi, Sungguh, Dialah Allah, yang selamanya tidak akan pernah meninggalkanku dan putraku, kalaulah memang kenyataan kehidupan adalah seperti ini, biarlah semuanya berjalan seperti apa adanya. disinilah letak kepasrahan dan kesabaran.
Tibalah di tempat tujuan dari perjalanan yang panjang di pinggir sebuah reruntuhan bangunan yang sudah lama sekali ditinggalkan. Yang mengesankan Nabi Ibrahim beranjak pergi dengan menaiki untanya, berarti meninggalkan istri dan anaknya di tengah-tengah gurun pasir tak berpenghuni.
Dengan sedikit keberanian Hajar menanyakan beberapa hal, apakah engkau akan meninggalkan kami sendirian di sini? Tanpa jawaban tidak ada suara, bahkan nabi Ibrahim semakin teguh beranjak pergi, mengapa engkau meninggalkan kami di sini? bagaimana nasib kami sendirian di tengah-tengah gurun tak berpenghuni ini?
Nabi Ibrahim tidak menjawab, bahkan, beliau telah mulai melangkahkan kakinya untuk pergi. Apakah keputusan engkau meninggalkan kami di tengah-tengah gurun pasir tak berpenghuni ini adalah karena perintah Allah? Benar, aku meninggalkan kalian di sini karena perintah Allah. Pada pertanyaan ketiga barulah Nabi Ibrahim berbicara sejak dari Kanaan menuju Bakkah (Mekkah).




