KEPMEN ini bertujuan untuk menghindari pemanfaatan secara ekstraktif dalam kegiatan perikanan terutama untuk bisnis sirip hiu. Namun demikian Hiu Paus tetap dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata minat khusus spesies terancam punah.
Kehadiran hiu paus di perairan Desa Botubarani sudah menjadi daya tarik wisatawan sejak tahun 2016. Ratusan bahkan ribuan turis mancanegara setiap tahun mengunjungi desa botubarani, Kabupaten Bone Bolango Gorontalo.

Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL Makassar) bersama Kelompok Sadar Wisata Botubarani rutin setiap hari mengawasi kemunculan hiu paus di zona interaksi wisata sehingga diketahui kecenderungn waktu dan musim migrasi hiu paus di perairan Botubarani. Selain itu para wisatawan sangat antusias untuk menjumpai hiu paus secara langsung di lautan.
Dalam catatan Kelompok Sadar Wisata Botubarani, pada 2016 Desa Botubarani didatangi oleh lebih dari 30.000 wisatawan dalam periode 3 bulan.
Mudahnya akses menuju pantai Botubarani, membuat wisata ini menjadi massal yang tidak dapat dihindari. Hal ini memicu aktivitas wisata yang tidak ramah dan dapat berdampak luka pada tubuh Hiu Paus.
Untuk itu, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut bekerja sama dengan NGO terkait telah menginisiasi rencana aksi nasional (RAN) konservasi pengelolaan Hiu Paus.





Komentar tentang post