Sabtu, April 25, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Tips & Trip Biota Eksotis

Ikan Napoleon, Makanan Mewah dan Mahal di Hong Kong

redaksi
16 Februari 2022
Kategori : Biota Eksotis, Bisnis dan Investasi, Konservasi
0
Ikan Napoleon

Ikan napoleon (Cheilinus undulatus) dewasa. FOTO: KKP

Suatu organisme yang diperdagangkan dan terdaftar masuk dalam CITES harus memiliki kode tertentu untuk mendeskripsikan kategori organisme berdasarkan asal usul apakah spesimen organisme tersebut berasal dari tangkapan alam (wild) atau hasil pembesaran dari anakan yang ditangkap dari alam (ranching) (Lyons et al., 2017).

Sehubungan dengan kode asal usul sumber ekspor ikan Napoleon tersebut, pada Conference of The Parties (COP) 18 di Jenewa, Swiss pada tahun 2019, Indonesia mendapat catatan bahwa ekspor ikan Napoleon khususnya Kepulauan Anambas dan Natuna tidak memenuhi syarat untuk diberi label kode ‘R’ (Ranched).

Aktivitas budidaya tersebut masih sangat bergantung pada jumlah juvenil yang tertangkap dari alam dan belum adanya studi tentang laju mortalitas alami atau laju pertumbuhan sebagai informasi landasan ilmiah sumber daya Napoleon yang berkelanjutan (Sadovy, 2019).

Menurut (Prianto et al., 2019), sistem produksi ikan Napoleon di kepulauan Natuna dan Anambas dapat dikelompokkan sebagai ‘Sea Ranching’ dengan alasan ikan Napoleon yang diekspor merupakan hasil pembesaran benih dari alam dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) selama 4–5 tahun.

Bagian tersebut menjadi dasar dalam menentukan kode sistem produksi ikan Napoleon di Kepulauan Natuna dan Anambas sebagai ‘R’ (Ranched).

Halaman 3 dari 4
Sebelumnya1234Selanjutnya
Tags: Cheilinus undulatusChinaHongkongIkan NapoleonKepulauan RiauNapoleon Wrasse
Bagikan28Tweet18KirimKirim
Previous Post

Tidak Ada Manfaat Ekonomi Bagi Negara untuk Perburuan Paus

Next Post

BKIPM Musnahkan Produk Perikanan yang Mengandung Bakteri Escherichia coli

Postingan Terkait

Percepatan Reviu Zonasi di Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat Memastikan Kesesuaian dengan Kebutuhan Masyarakat

Percepatan Reviu Zonasi di Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat Memastikan Kesesuaian dengan Kebutuhan Masyarakat

9 April 2026
55 Paus Pilot Sirip Pendek Terdampar di Pantai Rote Ndao, 34 Selamat

55 Paus Pilot Sirip Pendek Terdampar di Pantai Rote Ndao, 34 Selamat

15 Maret 2026

Tahun Kuda 2026: Empat Pelajaran Lingkungan yang Dapat Dipelajari Dari Kuda

Pariwisata Berkelanjutan Mendorong Tanggung Jawab dan Konservasi Lingkungan

Penyumbang Ekspor Terbesar Provinsi Gorontalo Pelet Kayu, Bukan Jagung dan Ikan

Tahun 2025 Ekspor Pelet Kayu Asal Provinsi Gorontalo Meningkat Menjadi 313,9 Ribu Ton

Komoditas Perikanan Penyumbang Inflasi Provinsi Gorontalo Januari 2026

Inflasi Provinsi Gorontalo 4,53 Persen, Harga Berbagai Komoditas Januari 2026 Naik

Next Post
BKIPM Musnahkan Produk Perikanan yang Mengandung Bakteri Escherichia coli

BKIPM Musnahkan Produk Perikanan yang Mengandung Bakteri Escherichia coli

Komentar tentang post

TERBARU

Tahun Ini El Nino Akan Kembali Dengan Cepat

SDGs Center UNG Kolaborasi Riset Untuk Pengabdian Masyarakat

Kualitas Informasi Publik Jangan Dikorbankan untuk Kompetisi Konten

Lanskap Informasi di Indonesia Mengalami Pergeseran Besar

Karya Jurnalistik Harus Ditegaskan Sebagai Ciptaan yang Dilindungi

Bahaya Pasang Tinggi Bagi Pulau-Pulau Kecil

AmsiNews

REKOMENDASI

IOM dan UNEP Bangun Lahan Basah Buatan di Irak Selatan yang Menghadapi Panas dan Kekeringan

Jambura Law Review UNG Raih Quartile 2 Jurnal Terindeks Scopus

Membangun Sistem Peringatan dan Mitigasi Tsunami

86 Meninggal Dunia Karena Cuaca Ekstrem di Sumatra Barat

AMSI dan RSF Luncurkan Journalism Trust Initiative

Nelayan di Perbatasan dan Pulau Terluar Mendapat Akses Permodalan

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.