Senin, Oktober 5, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Konservasi

Sejarah Bunaken

redaksi
1 November 2018
Kategori : Konservasi
0
Pulau Bunaken

Pantai Liang, Pulau Bunaken. FOTO: ROGER LANTANG

ADA istilah KKO di kawasan Taman Nasional Bunaken. KKO di Bunaken singkatan dari Kalao Kadara Ore. Artinya, ke laut dan ke darat oke.

Meski dikelilingi laut, kehidupan penduduk kawasan Bunaken, tidak sepenuhnya bergantung pada sumberdaya laut. Di musim hujan, rakyat setempat ada yang bertani, selain mencari ikan.

Mereka bercocok tanam, menanam padi ladang, ketela pohon, pisang, sayur-mayur dan tanaman lainnya.

Pengetahuan masyarakat tradisional melalui kalender musim sangat membantu sistem pemanfaatan sumberdaya alam setempat. Kapan waktunya musim ikan lolosi (Caesio spp), malalugis (Decapterus ruselli), cakalang (Katsuwonus pelamis), mandidihang (Thunnus albacores), deho (Auxis thazard) dan sako (Tylosurus crocodiles).

Begitu pula dengan ikan karang. Ikan-ikan yang berseliweran, mengikuti pola arus.

Akhir 1970-an, Bunaken mulai dikenal sebagai lokasi wisata bawah laut. Adalah instruktur selam di Manado, Ricky Lasut dan Locky Herlambang, yang mengawali penyelaman di kawasan Bunaken.

Survei kawasan Bunaken sebagai obyek wisata bawah laut dilakukan PT Ida Cipta pada tahun 1978. Setahun kemudian, Pangeran Bernhard dari Kerajaan Belanda berkunjung ke Pulau Bunaken.

Setelah itu, titik-titik penyelaman mulai diperkenalkan sebagai salah satu obyek wisata bawah laut yang terindah di dunia.

Halaman 1 dari 5
12...5Selanjutnya
Tags: BunakenKonservasi
Bagikan55Tweet33KirimKirim
Previous Post

Menanam Karang di Bunaken

Next Post

Black Box Pesawat Lion Air JT610 Tidak Utuh

Postingan Terkait

Mengurai Karbon Biru di Ekosistem Mangrove dan Lamun

Peneliti Temukan Laju Kehilangan Mangrove Global Melambat

20 September 2026
Kearifan Lokal Raja Ampat Diwariskan Untuk Menjaga Kelestarian Pesisir dan Laut

Kearifan Lokal Raja Ampat Diwariskan Untuk Menjaga Kelestarian Pesisir dan Laut

16 September 2026

Aplikasi Semi-Digital untuk Monitoring Penyu

Kawasan Konservasi Perairan Maluku Capai 4,3 Juta Hektare

Perburuan Paus, Praktik Grindadráp di Kepulauan Faroe Berbeda dengan Lamalera

Konservasi Paus Berkelanjutan di Lamalera Laut Sawu Nusa Tenggara Timur

BRIN Bahas Konservasi Integratif Paus Berbasis Kosmologi Hidup Masyarakat Adat Lamalera

Lamalera Spesialis Menangkap Paus Bergigi, Lamakera Tak Bergigi

Next Post
bagian black box

Black Box Pesawat Lion Air JT610 Tidak Utuh

Komentar tentang post

TERBARU

FAO: Belum Ada Kemajuan Nyata Mengurangi Kehilangan Pangan dan Memangkas Limbah Makanan

Gempa M 6,1 yang Mengguncang Sumba Barat Daya Mekanisme Normal Fault

Typhoon Nolo’s Long Path: Moving from the Eastern Pacific Toward Southern Japan in the Northwest Pacific

Lintasan Panjang Topan Nolo, Bergerak Dari Pasifik Timur Menuju Selatan Jepang di Pasifik Barat Laut

Lebih Dari 20 Lokasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Gorontalo

Pola Sebaran Partikel Halus PM2.5  Akibat Kebakaran Hutan Indonesia di Asia Tenggara

AmsiNews

REKOMENDASI

Paus Biru Muncul di Botubarani: Indikasi Jalur Migrasi Baru di Teluk Tomini

LP3M Perguruan Tinggi Indonesia Gelar Simposium di UNG

La Nina, Monsun Asia dan Fenomena MJO Berpotensi Meningkatkan Curah Hujan di Indonesia

Bibit Siklon Tropis 97S Akan Berkembang Kembali di Selatan NTT

Topan Super Krathon Bergerak Lambat di Laut Cina Selatan

Menanam Kembali Mangrove Untuk Mengatasi Kenaikan Permukaan Laut

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.