Darilaut – Hampir semua wilayah Indonesia rawan terhadap bencana gempa. Namun kontras dengan kondisi alam tersebut, data sesar aktif dan gempa masih kurang atau belum banyak diteliti.
Pengetahuan gempa umumnya masih belum cukup detail untuk diimplementasikan dalam mitigasi bencana.
“Dibutuhkan pengetahuan yang cukup tentang sesar aktif dan potensi gempa di seluruh wilayah Indonesia,” kata Profesor Riset Danny Hilman Natawidjaja, seperti dikutip dari Lipi.go.id.
Danny adalah peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi (Geotek) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang memberikan orasi ilmiah dalam pengukuhan Profesor Riset LIPI bidang kebumian. Profesor Riset di lingkungan LIPI ini dilantik pada Selasa (27/7).
Rangkaian gempa besar yang terjadi di Indonesia sejak tahun 2000 adalah bukti nyata bahwa Indonesia adalah wilayah dengan potensi bencana gempa yang sangat tinggi.
Indonesia mempunyai tingkat aktivitas seismik yang sangat tinggi karena terletak di wilayah batas pertemuan empat lempeng utama, yaitu lempeng India-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Karolina-Filipina.
Akibat pergerakan empat lempeng itu Kepulauan Indonesia terpecah belah menjadi bagian-bagian kecil yang dibatasi oleh banyak jalur sesar aktif.
Sejak gempa-tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, wilayah barat Indonesia seperti tidak henti-hentinya digoncang gempa. Hanya tiga bulan setelah Aceh, pada tanggal 28 Maret 2005, gempa megathrust (sesar naik di batas lempeng subduksi dangkal) berkekuatan Mw 8,7 menghentak wilayah Nias dan Simeuleu.





Komentar tentang post