Oleh: Dr. Suleman Bouti (Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo)
Kepada yang membaca, dan kepada para jiwa yang sedang tertunduk dalam duka,
Hari ini, saya ingin menuliskan pikiran hati saya, bukan sebagai dosen, bukan sebagai alumni universitas, tapi sebagai seorang manusia yang tengah diguncang rasa kehilangan—bahkan untuk mereka yang belum pernah saya temui secara langsung.
Saya diperlihatkan video tentang peristiwa tragis yang menimpa adik-adik mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo yang sedang menjalani KKN di Bone Bolango.
Namun, saya tak sanggup menontonnya hingga tuntas. Sebab sebagai seseorang yang pernah menyatu dengan alam semasa kuliah—mendaki bukit, melintasi sungai, tidur di tenda di tengah hujan dan dingin malam—saya bisa membayangkan, dengan sangat jelas dan menyakitkan, apa yang mungkin mereka alami.
Air bah yang tiba-tiba datang tak hanya menyeret tubuh mereka, tapi juga menghantamkan semangat, harapan, dan cita-cita itu pada kerasnya bebatuan dan rimba sungai. Tubuh saya menggigil.
Air mata ini menetes perlahan. Duka ini terasa begitu nyata, dan kesedihan ini tidak mengenal jarak, tidak mengenal nama. Mereka mungkin bukan anak kita, bukan kerabat kita. Tapi mereka adalah kita—mahasiswa, pejuang ilmu, penjelajah kenyataan, generasi yang tumbuh bersama harapan negeri.




