Darilaut – Pengelolaan ekosistem lamun di Indonesia selama ini masih didominasi oleh pendekatan ekologis semata, seperti konservasi dan rehabilitasi yang berfokus pada luasan area serta penanaman lamun. Padahal, ekosistem lamun memiliki keterkaitan erat dengan aspek sosial, ekonomi, serta tata kelola kelembagaan yang selama ini kerap terabaikan. Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebijakan Publik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nurul Dhewani Mirah Sjafrie, dalam orasi pengukuhan profesor riset yang digelar di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (10/12).
Menurut Nurul, pendekatan Social-Ecological System (SES) menjadi konsep yang tepat dan relevan untuk menjawab tantangan pengelolaan ekosistem lamun di Indonesia. SES merupakan pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, ekonomi, serta tata kelola dalam satu kerangka analisis yang saling terkait. Dengan pendekatan ini, strategi pengelolaan yang dihasilkan tidak hanya berorientasi pada kelestarian lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan dinamika masyarakat dan kebijakan yang memengaruhinya.
“Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Keduanya saling berinteraksi secara timbal balik. Manusia membutuhkan alam untuk keberlangsungan hidup, sementara kondisi alam sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia,” ujar Nurul.




