Darilaut – Tongkol jagung yang biasanya hanya menjadi limbah, kini mulai dimanfaatkan untuk material bangunan.
Inovasi ini dikembangkan sejumlah peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang diketuai Niniek Pratiwi.
Di tangan tim peneliti UNG, limbah pertanian ini bertransformasi menjadi material bangunan canggih yang mampu mendinginkan rumah secara alami tanpa bantuan energi listrik.
Sebagai daerah penghasil jagung terbesar di kawasan Timur Indonesia, Gorontalo sering kali dihadapkan pada masalah klasik: tumpukan limbah tongkol jagung yang hanya berakhir sebagai sampah atau bahan bakar tradisional.
Inovasi yang diberi nama Eco-Cooler ini lahir dari penelitian berjudul “Integrasi Eco-Cooler Berbahan Limbah pada Desain Rumah Ramah Lingkungan sebagai Strategi Menuju Arsitektur Berkelanjutan.”
Selain Niniek Pratiwi, tim peneliti antara lain Dr. Ernawati, Dr. Rahmatiah, dan mahasiswa Program Studi Arsitektur UNG.
Menurut Niniek inovasi ini dari limbah “harta karun” yang terbuang dari hasil pertanian masyarakat Gorontalo.
Melalui program Riset Akselerasi Publikasi Internasional (RAPI) 2025 dari LPPM UNG, peneliti ingin membuktikan bahwa tongkol jagung memiliki potensi luar biasa bagi industri konstruksi.
Inovasi ini berfokus pada pemanfaatan limbah tongkol jagung, komoditas unggulan Gorontalo, untuk menghasilkan eco-cooler—sistem pendingin pasif tanpa listrik yang mampu menurunkan suhu ruang secara alami.




