Zulkifli Tanipu, M.A.,Ph.D., Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo
Banyak orang mengira kefasihan berbahasa Inggris ditentukan oleh jumlah kosakata yang dimiliki. Karena itu, tidak sedikit pelajar yang menargetkan menghafal puluhan kata baru setiap minggu.
Padahal, ketika kita mendengar penutur bahasa Inggris berbicara secara alami, mereka justru lebih sering menggunakan ungkapan yang sudah menjadi satu kesatuan daripada menyusun kalimat dari kata demi kata.
Coba perhatikan percakapan sehari-hari. Ungkapan seperti I think, as a result, on the other hand, atau at the end of the day muncul berulang kali.
Penutur tidak berhenti untuk memilih setiap kata secara terpisah. Mereka mengambil seluruh rangkaian kata itu sekaligus, sehingga pembicaraan mengalir lebih cepat dan terdengar lebih alami.
Inilah yang dalam kajian bahasa disebut formulaic language atau ungkapan yang diproses sebagai satu unit makna.
Masalahnya, pembelajaran bahasa Inggris di kelas masih sering berpusat pada kata tunggal. Siswa diminta menghafal arti sebuah kata, tetapi jarang mempelajari bagaimana kata itu terhubung dan digunakan bersama kata-kata lain.
Akibatnya, mereka mengenal banyak kosakata, tetapi tetap bingung ketika harus menyusun kalimat yang terdengar wajar. Mereka tahu arti take dan care, tetapi belum tentu terbiasa menggunakan take care of. Mereka memahami make dan decision, tetapi masih ragu mengucapkan make a decision secara spontan.




