Pesisir Utara Semenanjung Hitu menderita kerusakan yang paling parah, terutama di daerah Seit di antara Negeri Lima dan Hila di mana air naik hingga ketinggian 90-110 meter.
Rumphius mencatat, gempa disertai tsunami itu merenggut korban meninggal sebanyak 2.200 orang.
Dalam naskah yang diterbitkan tahun 1675, Rumphius memberi judul “Waerachtigh Verhael van der Schierlijke Aerdbevinge” atau Kisah Nyata tentang Gempa Bumi yang Dahsyat.
Menurut ilmuwan kelautan Dr Anugerah Nontji (Penjelajahan dan Penelitian Laut Nusantara dari Masa ke Masa, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI ,2009) naskah ini sebagai laporan tertulis tertua mengenai gempa dan tsunami di Indonesia.
Rumphius lahir di Jerman, pada 1627. Ia kemudian masuk dinas militer Belanda.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan, potensi gempa bumi dan tsunami di Maluku dan Sekitarnya, khususnya pulau Ambon sangatlah tinggi.
Kondisi tersebut menyebabkan wilayah Maluku tidak pernah sepi akan kejadian gempa bumi. Banyak sumber-sumber gempa bumi di wilayah tersebut.
Menurut Daryono, masyarakat perlu selalu peduli dan siap untuk merespon tanda-tanda bahaya alam, yang sama baiknya dengan memahami peringatan resmi.
Pembangunan kapasitas untuk kesiapsiagaan masyarakat dalam mempertahankan diri harus menjadi program yang berkelanjutan di Ambon dan sekitarnya, kata Daryono.




