Dwikorita mengatakan, sejak tahun 2016, BMKG semakin menyadari bahwa Indonesia adalah wilayah yang sangat rawan bencana namun tidak dibekali dengan persenjataan teknologi yang canggih. Atas dasar itulah, BMKG terus melakukan penambahan dan pembaharuan alat dan teknologi guna menjaga keselamatan masyarakat terhadap bencana.
Termasuk pemasangan sensor gempa di Kawasan Candi Abang, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, ini dilakukan untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi informasi peringatan dini gempa besar dan tsunami kepada masyarakat. Mengingat wilayah Yogyakarta sendiri memiliki potensi kegempaan yang bersumber dari sesar-sesar aktif seperti sesar naik Opak dan zona subduksi (lempeng indo-Australia dan lempeng Eurasia) di selatan Jawa.
Menurut Dwikorita, meskipun fenomena gempabumi dan tsunami tidak dapat diprediksi, namun dampaknya dapat diminimalisir melalui kecepatan analisa gempabumi dengan jaringan seismograf yang rapat, pemodelan tsunami yang presisi, penyebaran informasi yang meluas ke masyarakat dan pendidikan mitigasi bencana yang tepat.
Pemasangan seismograf dengan kode Sensor SYJI telah masuk dengan baik dalam sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).
Keberadaan Sistem Monitoring dan Peringatan Dini Tsunami, lanjut Dwikorita merupakan wujud kemajuan dan kesiapsiagaan Indonesia dalam upaya mencegah, atau paling tidak dalam upaya mengurangi dampak dari bahaya gempa bumi dan tsunami, yang dapat timbul kapan saja dan di mana saja.





Komentar tentang post