”Cuma hujan 3 jam,” kata ketua kelompok nelayan di Leato Selatan, Eni S Nani (71 tahun), yang membuat pondasi itu amblas pada pukul 16.00 Wita.
”Ini bukan karena ombak, tapi aliran air dari pegunungan di atas Ololalo,” ujarnya.
Warga di Ololalo telah mengingatkan tentang kondisi geografis di kawasan tersebut. Setelah pesisir, tak jauh terdapat pegunungan yang tiap musim penghujan membawa volume air yang mengalir di sungai kecil.
Kearifan lokal mengenai kondisi geografis di Ololalo diabaikan dalam pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Kelurahan Leato Selatan.
Bahkan di muara aliran air ini, dibikin beton penghalang. Volume air dari hulu di pegunungan dengan muara menjadi lebih sempit.
Akibatnya, aliran air yang deras tertahan di satu sisi, dan menghantam di sisi lainnya. Kedua, sisi ini amblas atau mengalami penurunan.
Kini bagian pondasi yang amblas mulai diperbaiki. Beton penghalang di muara juga telah dijebol. Sejumlah pekerja terlihat memperbaiki kerusakan.
”Untuk perbaikan perbaikan dinding penahan tanah dua sisi yang mengalami amblas sudah dikerjakan dengan penguatan sloop beton,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, Dr. Aryanto Husain, Senin (1/6).
Menurut Aryanto, direncanakan masih akan ada perbaikan bagian lantai aliran sungai untuk meminimalisir dinding penahan tergerus air sungai. (VM)



