Saat ini, bagian Gunung Anak Krakatau yang tersisa mempunyai ketinggian 110 meter di atas permukaan laut (dpl) — semula 338 m dpl. Karena kawah berada di bawah permukaan air laut, saat ini letusan bertipe Surtseyan.
Puncak Anak Krakatau hilang (diletuskan dan runtuh) yaitu seluruh kerucut yang berada di atas dan terjadi sesudah ‘somma’ Anak Krakatau.
Dari posisi ‘somma ‘ yang berada di pelataran yang relatif stabil, dan tidak pernah longsor sejak lahir Anak Krakatau. Potensi terjadi longsor-besar sangatlah kecil atau hampir tidak ada. Tidak ada potensi tsunami dari proses longsoran.
Namun demikian, perlu diingat bahwa struktur geologi di Selat Sunda merupakan struktur aktif dengan sebagian berupa sesar normal. Sehingga reaktivitasi sesar-sesar ini tetap harus diwaspadai.
Posisi kawah yang berada di permukaan atau sedikit dibawah permukaan air laut menjadikan tipe letusan berubah dari Strombolian ke Surtseyan. Letusan jenis ini tidak akan menimbulkan tsunami karena terjadi di permukaan air dan material cenderung terlempar ke udara secara total.*





Komentar tentang post