Upaya pelestarian idealnya perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat awam ataupun para hobiis anggrek.
Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan masyarakat maupun para hobiis anggrek dalam mendukung pelestarian anggrek Paphiopedilum di Indonesia.
Misalnya, secara langsung masyarakat melakukan pendalaman informasi tentang suatu spesies anggrek sebelum memutuskan untuk membeli/ memelihara.
Informasi tersebut, menurut Destario, meliputi karakter budidayanya seperti ketinggian habitat alaminya, kebutuhan sirkulasi angin, kebutuhan kelembaban, atau rentang toleransi intensitas cahayanya.
“Banyak spesies Paphiopedilum yang habitatnya terbatas pada area dataran tinggi di atas 1200 m dpl, sehingga pemeliharaan di lokasi dataran rendah yang bersuhu panas dapat meningkatkan resiko kematian si anggrek,” katanya.
Menurut Destario masyarakat dapat menghindari membeli anggrek cabutan alam yang belum dipelihara atau mengalami cukup masa adaptasi oleh penjual.
Masyarakat juga bisa lebih memilih untuk membeli tanaman anggrek Paphiopedilum hasil dari budidaya kultur in-vitro (seringkali disebut dengan istilah bibit botolan).
“Umumnya bibit anggrek hasil kultur in-vitro menunjukkan kemampuan adaptasi dan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan hasil dari cabutan alam,” katanya.





Komentar tentang post