Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Pusat Riset Oseanologi BRIN ini berhasil memetakan hotspot atau titik panas pencampuran air laut dalam di Selat Lifamatola, yang merupakan satu-satunya jalur laut dalam dengan kedalaman lebih dari 1.900 meter bagi masuknya massa air Pasifik menuju Laut Seram dan Laut Banda.
Adi menjelaskan bahwa Selat Lifamatola memiliki peran yang sangat penting dalam sistem Arus Lintas Indonesia (Indonesian Throughflow/ITF).
Menurut Adi, ITF merupakan sistem arus laut yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, sekaligus berperan dalam distribusi panas, air tawar, dan nutrien secara global.
Topografi Selat Lifamatola yang curam, dikombinasikan dengan pengaruh pasang surut yang kuat, menjadikan kawasan ini lokasi pencampuran vertikal air laut yang sangat intens.
“Proses tersebut memengaruhi suhu dan salinitas air laut yang berdampak pada dinamika iklim, baik regional maupun global,” ujarnya.
Pencampuran turbulen di selat sempit seperti Lifamatola juga memiliki implikasi ekologis dan lingkungan yang luas, kata Adi.
Selain memengaruhi karakteristik massa air, proses ini diduga berperan dalam transportasi vertikal mikroplastik, sebagaimana ditunjukkan dalam studi-studi terpisah oleh peneliti lainnya.




