Air, sedimen, dan bongkahan batu besar menerjang sungai-sungai di bawahnya, menyapu kota dan desa di sepanjang salah satu jalur perdagangan terpenting Nepal dan Cina. Di sebuah stasiun pemantau, ketinggian air naik hingga sembilan meter hanya dalam waktu setengah jam.
Hingga hari Jumat (28/8), lebih dari 500 orang dilaporkan tewas di seluruh wilayah Nepal dan Tibet, sementara lebih dari 1.500 orang masih dinyatakan hilang, termasuk ratusan warga negara asing.
Keluarga inti Dr. Chapagain selamat dari bencana tersebut. Meski demikian, kabar itu tetap memberikan dampak emosional yang berat baginya.
“Selalu sulit menerima kabar mengerikan seperti ini dari kampung halaman,” katanya. “Kejadiannya semakin sering dan dampaknya semakin parah.”
Bencana ini merupakan gambaran nyata dan keras dari masalah yang telah diperingatkan oleh para ilmuwan iklim selama bertahun-tahun. Struktur es Himalaya sedang berubah, membuat jutaan orang terpapar bahaya yang semakin sulit diprediksi dan, dalam beberapa kasus, semakin destruktif.

Bagaimana Runtuhnya Bagian Gunung Memicu Banjir Mematikan
Para ahli masih menyusun rangkaian peristiwa yang berujung pada bencana hari Rabu tersebut. Analisis citra satelit menunjukkan bahwa batuan dasar di bawah gletser runtuh, melontarkan massa es dan batu dalam jumlah besar ke Lhende Khola—anak Sungai Bhotekoshi—dan memicu rentetan peristiwa destruktif yang terjadi kemudian.



