Kondisi lingkungan yang tercemar tentunya akan berpengaruh pada organisme yang hidup pada habitat tersebut.
Menurut Neviaty, bagi sebagian penduduk Pulau Tidung, sampah bisa menjadi mata pencaharian dan penghasilan tambahan. Sampah botol dan minuman kemasan dijual kepada pengumpul dengan harga Rp 7000 per kilogram.
“Saat masa pandemi, sampah botol dan gelas yang terkumpul bisa mencapai 4-8 kuintal per bulan. Sedangkan pada kondisi normal dan banyak wisatawan yang datang, sampah botol dan gelas bisa terkumpul sekitar 8-10 kuintal per bulan,” kata Neviaty, seperti dikutip dari Ipb.ac.id.
Neviaty mengatakan bahwa ada pergeseran mata pencaharian pada sebagian kelompok masyarakat pulau ini. Dahulu sebagian besar mereka menjadi nelayan ikan. Saat sedang maraknya wisata, sebagian besar berubah menjadi pemandu dan pelaku usaha wisata. Sekarang sebagian orang menjadi nelayan sampah.
Hal ini menjadi ironi karena dahulu sangat mudah menangkap ikan di laut sedangkan sekarang yang paling mudah ditangkap adalah sampah. Namun begitu, aktivitas mereka sangat membantu dalam menjaga pulau agar tetap bersih dari penumpukan sampah laut.





Komentar tentang post