Masalahnya, working memory atau memori kerja manusia memiliki kapasitas terbatas. Otak tidak mampu memproses terlalu banyak informasi secara bersamaan, kata Zulkifli.
Ketika beban informasi melebihi kapasitas tersebut, kemampuan berpikir dan berbahasa mulai terganggu.
Akibatnya, mahasiswa kesulitan menyusun jawaban, kehilangan alur bicara, atau bahkan terhenti sama sekali.
“Faktor lain yang tak kalah penting adalah kecemasan. Saat gugup, fokus mahasiswa bergeser dari isi jawaban ke ketakutan akan penilaian penguji,” kata Zulkifli.
”Pikiran seperti takut salah, takut dianggap tidak kompeten, atau takut tidak mampu menjawab justru memperparah kondisi mental dan memperlambat proses berpikir. Dalam keadaan seperti ini, otak bekerja kurang optimal, sehingga kemampuan berbicara ikut menurun.”
Wawancara dengan sejumlah mahasiswa menunjukkan bahwa pertanyaan mendadak menjadi salah satu pemicu kecemasan terbesar. Meski telah belajar dengan sungguh-sungguh, pertanyaan yang datang secara tiba-tiba sering membuat mahasiswa merasa tidak siap.
Tekanan semakin meningkat ketika penguji mengharapkan jawaban cepat, sementara mahasiswa membutuhkan waktu untuk menyusun respons yang terstruktur.
Para dosen mengakui bahwa durasi ujian yang singkat dan ritme tanya jawab yang cepat dapat menghambat mahasiswa dalam menampilkan kemampuan terbaiknya.




