Sumatera Barat juga mengalami dampak besar. Kajian CELIOS mencatat 193 korban meninggal, 117 hilang, dan kerugian ekonomi mencapai Rp2,01 triliun. WALHI menemukan bahwa DAS Aia Dingin, sebagai sumber air utama Kota Padang, telah kehilangan 780 hektare tutupan pohon sejak 2001, terutama karena ekspansi di bagian hulu.
Secara keseluruhan, laporan CNN Indonesia dan Kompas menunjukkan bahwa bencana ini berdampak pada 3,2 juta jiwa di tiga provinsi. Infrastruktur mengalami kerusakan masif: 3.500 rumah rusak berat, 277 jembatan hancur, dan 322 fasilitas pendidikan terdampak.
Dalam rentang 2016-2025, WALHI mencatat deforestasi sebesar 1,4 juta hektare di tiga provinsi tersebut. Penyebab utamanya adalah aktivitas 631 perusahaan ekstraktif, meliputi tambang, perkebunan sawit, industri kayu, geotermal hingga PLTA. Investigasi Ekuatorial turut mengungkap bahwa hilangnya hutan hulu menyebabkan hujan yang seharusnya menjadi berkah justru berubah menjadi ancaman bencana.
WALHI menilai pemerintah justru keliru dalam mengambil posisi. Alih-alih fokus pada pemulihan ekosistem hulu, pemerintah terus menyalahkan cuaca ekstrem sembari menawarkan solusi teknis seperti normalisasi sungai yang disebut WALHI sebagai langkah jangka pendek yang tak menyentuh akar masalah.




