Untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, tim menjalankan delapan skenario dengan mengombinasikan perbedaan lokasi, waktu kejadian, dan dorongan angin.
Hasilnya kemudian digabungkan melalui pendekatan ensembel menjadi peta probabilitas. Area yang mencakup 95 persen kemungkinan posisi korban berkembang dari sekitar 2.700 kilometer persegi pada hari keenam menjadi lebih dari 10.500 kilometer persegi pada hari ke-14.
Pemodelan hanyut perlu didukung data lapangan dan informasi kelautan yang lengkap. Menurut Widodo, semua parameter atau kejadian di laut secara fisik memang harus dikumpulkan semua, mulai dari kondisi gelombang, kondisi arus, kemudian kondisi yang ada di angkasa termasuk angin dan citra satelit.
“Itu harus dikumpulkan untuk dianalisis dan dihubungkan dengan kondisi stabilitas kapal, kelaikan, dan muatannya,” ujarnya.
Tim OCRG BRIN menegaskan bahwa hasil pemodelan merupakan alat bantu perencanaan, bukan penentu lokasi korban.
Model masih memiliki keterbatasan, antara lain penggunaan data angin yang diperkirakan dari tinggi gelombang serta asumsi korban tetap mengapung dengan pelampung. Hasil simulasi juga belum dapat diuji menggunakan temuan lapangan.
Widodo mengatakan kajian ini menunjukkan potensi pemodelan laut untuk mendukung kesiapsiagaan pencarian dan pertolongan di perairan Indonesia. Pengembangan protokol pemodelan hanyut, pemasangan pelampung berpenjejak satelit, model hidrodinamika beresolusi tinggi.




