Menurut Taslim, selama ini terdapat kesenjangan mendasar dalam pengelolaan terumbu karang, mulai dari pendekatan yang masih sektoral dan parsial, keterbatasan integrasi antar-ekosistem, hingga belum adanya standar nasional yang komprehensif. Kondisi tersebut dinilai menghambat efektivitas kebijakan konservasi.
Merespons kesenjangan tersebut, Taslim mengembangkan konsep IDDE berbasis ekosistem yang mengintegrasikan berbagai parameter penting, seperti faktor geofisik, oseanografi, serta tekanan aktivitas manusia.

Konsep ini bertujuan untuk mengukur kapasitas suatu wilayah dalam menopang kehidupan tanpa mengalami degradasi, kata Taslim.
Taslim menjelaskan bahwa daya dukung ekologi tidak dapat dipahami sebagai batas statis semata, melainkan sebagai hasil interaksi dinamis antara sistem biofisik dan kebutuhan sosial-ekonomi.
Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus mampu menangkap dimensi spasial, temporal, dan ekologis secara bersamaan.
“Pendekatan terpadu memungkinkan pemetaan distribusi tekanan dan kapasitas wilayah secara lebih akurat, sekaligus memprediksi perubahan kondisi lingkungan dalam berbagai skenario,” ujar Taslim seperti dikutip dari Brin.go.id.




