Peningkatan suhu akan mempercepat proses perkembangan larva nyamuk menjadi dewasa. Perubahan iklim juga akan mempercepat nyamuk betina dewasa untuk mencerna darah yang dihisap, sehingga intensitas penghisapan akan semakin tinggi. Ini berakibat ke peningkatan frekuensi penularan penyakit.
“Ini juga yang terjadi dilingkungan tempat tinggal Orang Rimba, terutama pada Orang Rimba yang tinggal tidak lagi dalam kawasan hutan, yaitu di perkebunan kepala sawit dan hutan karet,” kata Fasilitator Kesehatan KKI Warsi, Mariya.
Menurut data Kementerian Kesehatan, jenis-jenis nyamuk yang dapat dipengaruhi oleh perubahan iklim adalah Anopheles gambiae, A. funestus, A. darlingi, Culex quinquefasciatus, dan Aedes aegypti.
Culex sp merupakan salah satu vektor penular filariasis dan termasuk nyamuk yang bersifat antropofilik (gemar menghisap darah manusia). Aktivitas menghisap dilakukan pada malam hari dan di luar rumah.
“Dengan kondisi Orang Rimba yang tinggal tidak dalam rumah tertutup, maka peluang untuk digigit nyamuk ini semakin terbuka dan pada akhirnya menimbulkan kerentanan pada suku ini. Untuk itu, sangat penting adanya sejumlah langkah yang bisa dilakukan guna mengendalikan situasi ini,” kata Mariya.
Kelangkaan Pangan
Perubahan lingkungan dan kondisi cuaca yang tidak menentu juga turut memengaruhi pasokan pangan Orang Rimba. Termasuk Orang Rimba yang masih tinggal di daerah yang berhutan.





Komentar tentang post