Berdasarkan penelitian Lembaga Biologi Molekuler Eijkman — kini Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) — pada tahun 2015 lalu, prevalensi penyakit malaria pada Orang Rimba mencapai 24,26 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa dalam 100 Orang Rimba, terdapat 24 orang yang terkena malaria, jauh lebih tinggi dari angka Dinas Kesehatan Provinsi Jambi yang menunjukkan pada tahun 2020 hanya ada 68 kasus malaria.
Tingginya angka paparan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk ini, diduga akibat perkembangan vektor penyakit ini dapat dipengaruhi oleh iklim yang berubah. Hal ini disebabkan karena unsur cuaca mempengaruhi metabolisme, pertumbuhan, perkembangan, dan populasi nyamuk tersebut.
Sebagai contoh, curah hujan dengan penyinaran matahari yang relatif panjang turut memengaruhi perindukan nyamuk sehingga nyamuk berkembang biak lebih cepat dan lebih masif.
Perubahan iklim dapat memicu perkembangbiakan penyakit tular vektor karena berkaitan dengan suhu, kelembaban udara dan curah hujan.
Vektor adalah hewan avertebrata yang menularkan agen penyakit. Perubahan iklim telah mempengaruhi siklus hidup nyamuk dan intensitas isapan nyamuk. Hal ini karena nyamuk adalah hewan ectothermic, yaitu suhu tubuhnya sangat tergantung dengan suhu lingkungan.





Komentar tentang post