Jakarta – JICA (Japan Internasional Cooperation Agency) memberikan hibah senilai 2,5 miliar Yen (1 Yen = Rp.129,34) untuk pengembangan sektor perikanan di pulau-pulau terluar indonesia. Penandatanganan naskah perjanjian hibah ini telah dilakukan Pemerintah Indonesia dan JICA (Badan Kerjasama Internasional Jepang) pada Selasa (31/7).
Kerjasama ini ditandatangani Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Perbowo bersama Perwakilan JICA untuk Indonesia, Shinichi Yamanaka, di Gedung Mina Bahari I KKP.
“Program ini akan memberikan dukungan fiskal terhadap rencana pembangunan di enam pulau terluar Indonesia,” kata Nilanto. Khususnya, di Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) KKP.
Fasilitas dan target dari program ini, berupa fasilitas pelabuhan perikanan dan pasar ikan di daerah Sabang (Provinsi Aceh) dan Natuna (Provinsi Kepulauan Riau) dan Morotai (Provinsi Maluku Utara). Selanjutnya, di Saumlaki (Provinsi Maluku), Moa (Provinsi Maluku), dan Biak (Provinsi Papua).
Untuk Sabang, dana yang dialokasikan sebesar 1,2 miliar yen. Biaya ini akan digunakan untuk pembangunan cold storage, processing, instalasi pengolahan, tempat pendaratan ikan, dan pemberhentian kapal. Selan itu, akan disiapkan ice flake machine berkapasitas 10 ton juga akan disiapkan.
Hal serupa akan dilakukan di Kepulauan Natuna yang mendapat dana alokasi sebesar 983 ribu yen, Morotai sebesar 707 juta yen, Saumlaki 692 juta yen, Moa 424 juta yen dan Biak 260,9 juta yen.
“Jadi total 2,5 milyar yen, saat ini masih disiapkan kajiannya,” kata Nilanto. Program ini disiapkan untuk 2020. Waktu pembangunan akan dilakukan serentak di enam lokasi dan akan dikerjakan dalam waktu enam bulan ke depan terhitung dari Selasa (31/7).
Perwakilan JICA untuk Indonesia, Shinichi Yamanaka mengatakan program ini sebagai langkah awal komunikasi dan kerjasama yang lebih baik antar kedua negara serta memberikan dampak positif, terutama bagi nelayan dan masyarakat pesisir.
“Setelah program ini selesai, nelayan kecil akan dapat menggunakan pelabuhan perikanan yang sudah dibenahi,” kata Shinichi.
Nelayan juga dapat mendapat berbagai fasilitas seperti tempat penyimpanan ikan. Melalui kerjasama ini diharapkan dapat memberikan stimulus kepada usaha perikanan lokal dan standar hidup masyarakat pesisir, terutama di pulau-pulau terluar Indonesia.
Dengan program ini, nelayan kecil di Indonesia dapat menggunakan pelabuhan perikanan yang dilengkapi dengan fasilitas penyimpanan dengan pendingin (coldstorage) dan pembuatan es. Sehingga dapat berkontribusi dalam meningkatkan kegiatan penangkapan ikan dan standar hidup nelayan di pulau terluar.
“Kami, JICA ingin terus berkontribusi pada program KKP,” ujar Shinichi. Setelah program ini, JICA dapat berkontribusi pada sektor konstruksi kapal patroli, kapal ikan serbaguna, serta pengawasan dan pemanfaatan teknologi.*





Komentar tentang post