Nama Perseid sendiri berkaitan dengan posisi radiant atau titik di langit tempat meteor-meteor tersebut secara perspektif tampak berasal, yakni di sekitar rasi Perseus. Dengan demikian, meteor dapat terlihat melintas ke berbagai arah meskipun jika lintasannya ditarik ke belakang akan tampak mengarah ke kawasan tersebut.
Fenomena Perseid berlangsung dalam periode cukup panjang. Berdasarkan penjelasan Thomas, hujan meteor tersebut dapat diamati sejak 23 Juli hingga 20 Agustus, dengan puncak aktivitas berlangsung pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus.
Pengamatan dari Observatorium Nasional Timau turut mendokumentasikan fenomena tersebut. All Sky Camera yang ditempatkan di observatorium berhasil mendeteksi meteor Perseid saat melintas di langit.
Rekaman tersebut menunjukkan bagaimana fasilitas pengamatan astronomi dapat digunakan untuk mendokumentasikan fenomena langit yang berlangsung di atas wilayah Indonesia. Masyarakat juga masih memiliki kesempatan mengikuti aktivitas Perseid setelah malam puncaknya.
“Silakan pantau sampai 20 Agustus di situs ASC Obsnas Timau,” kata Thomas seperti dikutip dari Brin.go.id.
Secara internasional, Perseid dikenal sebagai salah satu hujan meteor tahunan dengan aktivitas tinggi. American Meteor Society (AMS) mencatat Perseid berasal dari partikel Komet 109P/Swift-Tuttle dan pada 2026 mencapai puncaknya pada 12–13 Agustus. Dalam kondisi ideal di lokasi dengan langit gelap, aktivitas Perseid dapat mencapai tingkat yang tinggi.



