Menurut Dekan Fakultas MIPA Universitas Indonesia Dede Djuhana, keterbatasan data terkait habitat kritis, minimnya pakar taksonomi hiu dan pari serta upaya integrasi dimensi manusia dalam konservasi hiu dan pari menjadi tantangan tersendiri di dunia akademik.
Dede mengatakan FMIPA UI melalui wadah program studi (prodi) Magister Ilmu Kelautan Departemen Biologi, Pusat Studi Kelautan, serta prodi dan pusat riset terkait lainnya, mendorong minat mahasiswa dan staf pengajar untuk mengembangkan berbagai kajian terkait hiu dan pari. Selain itu, berupaya meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait pentingnya peran hiu dan pari dalam ekosistem laut sebagai bagian dari pengabdian masyarakat.
Dalam forum yang sama, Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF-Indonesia Imam Musthofa Zainudin menjelaskan dari hasil simposium hiu dan pari akan menjadi acuan untuk WWF-Indonesia dalam mendukung program ekonomi biru yang diterapkan oleh Pemerintah Indonesia. Terutama dalam mengurangi ancaman dan melindungi habitat kritis hiu dan pari dalam skema perluasan kawasan konservasi di Indonesia.
Hal ini berkontribusi kepada komitmen Pemerintah Indonesia untuk global dalam memiliki 30% kawasan konservasi kelautan pada tahun 2045 – ’30-by-45’, kata Imam.




