Alat tangkap gae dan rumpon, kata Syamsul, tidak terpisahkan dalam penangkapan ikan. Gae sebagai jaring yang digunakan bersama rumpon, di mana merupakan struktur apung yang menjadi tempat berkumpul ikan.
“Dahulu, rumpon dirakit dari bambu, namun kini karena sulitnya memperoleh bambu, maka beralih menggunakan gabus,” ujarnya.
Pelampung, tali penghubung, dan batu pemberat menjadi bagian integral dari rumpon modern.
Sementara orang Bajo dikenal sebagai masyarakat laut sejati, yang kehidupannya tidak bisa dipisahkan dari lautan. Mereka hidup dan menetap di pesisir atau pulau kecil, umumnya tidak tertarik pindah ke kota, karena merasa terpisah dari laut.
Bagi mereka, rumah harus langsung menghadap laut agar bisa segera melaut kapan saja tanpa penghalang.
Orang Bajo cenderung mempertahankan alat tradisional seperti bubu, pancing, dan pukat. Mereka sangat jarang beralih ke teknologi modern, bahkan perahunya peninggalan leluhur.
Mereka tidak menunjukkan kecenderungan untuk mengembangkan aset seperti membeli tanah atau rumah di kota, melainkan memilih tetap tinggal di wilayah pesisir.
Salah satu alat tangkap unik dari Bajo adalah sero, alat seperti jaring besar yang dipasang di laut dan ditinggal. Ikan yang masuk ke dalam tidak bisa keluar karena jaring ini memiliki ruang seperti sumur di dalamnya.




