Selain itu, Wakatobi juga mengembangkan ekonomi hijau melalui pariwisata berkelanjutan, budidaya rumput laut ramah lingkungan, serta pengembangan sport tourism berbasis konservasi.
“Kami ingin memastikan sustainability di Kabupaten Wakatobi benar-benar dilaksanakan oleh seluruh stakeholder, termasuk masyarakat hukum adat,” kata Haliana seperti dikutip dari Brin.go.id.
Direktur Eksekutif Komite Nasional Man and the Biosphere (MAB) UNESCO Indonesia sekaligus Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Virni Budi Arifanti, mengatakan, pengelolaan biosfer membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, hingga lembaga pengelola kawasan agar fungsi konservasi dan pembangunan dapat berjalan beriringan.
“Pengelolaan cagar biosfer saat ini tidak lagi bertumpu pada perlindungan kawasan semata, tetapi pada kemampuan seluruh zona biosfer untuk dikelola secara terpadu,” kata Virni.
Melalui penguatan tata kelola berbasis jasa ekosistem tersebut, BRIN mendorong cagar biosfer tidak hanya menjadi instrumen konservasi, tetapi juga ruang integrasi antara perlindungan lingkungan, pembangunan daerah, dan penguatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Wakatobi dengan luas wilayah: 1.390.000 ha adalah akronim untuk empat pulau utama, bersama dengan pulau-pulau kecil lainnya, membentuk Kepulauan Tukang Besi di ujung tenggara Sulawesi.




