Darilaut – Banjir bandang bukanlah hal baru, akan tetapi frekuensi dan intensitasnya meningkat di banyak wilayah akibat urbanisasi yang cepat, perubahan tata guna lahan, dan perubahan iklim.
Dalam siaran pers Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), atmosfer yang lebih hangat menahan lebih banyak kelembapan, sehingga curah hujan ekstrem menjadi lebih sering terjadi.
Seperti banjir bandang yang terjadi di wilayah perbukitan Texas bagian Tengah, Amerika Serikat (AS). Lebih dari 100 orang dipastikan tewas dan puluhan lainnya hilang.
Banjir bandang sendiri menyumbang hampir 85% dari seluruh kematian akibat banjir dan mengakibatkan kerugian ekonomi melebihi $50 miliar per tahun.
Sebuah studi global oleh Bank Dunia memperkirakan bahwa 1,81 miliar orang (23% dari populasi dunia) terpapar langsung oleh banjir yang terjadi sekali dalam 100 tahun, dengan 89% di antaranya tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Banjir dahsyat baru-baru ini menyoroti kebutuhan mendesak akan sistem prakiraan dan peringatan yang lebih baik:
• Banjir Asia Selatan 2020: Terdampak lebih dari enam negara, menyebabkan 6.511 kematian dan kerugian senilai US$ 105 miliar.
• Banjir Pakistan 2022: Lebih dari 1.700 korban jiwa, 33 juta orang terdampak, dengan perkiraan kerugian sebesar US$ 40 miliar.




