“Transmigrasi adalah perjalanan hijrah, perjalanan membangun peradaban baru bangsa. Para pengembara ini adalah ‘muhajirin modern’, dan masyarakat di daerah menjadi ‘ansar-ansar’ yang akan menyambut mereka. Ini adalah tugas sejarah, tugas profetik, dan tugas leluhur,” ujarnya.
Kementrans yang dibentuk kembali oleh Presiden Prabowo memiliki mandat besar untuk mendukung ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi inklusif, serta pembangunan kawasan dari Aceh hingga Papua, kata Velix.
Direktur Pengembangan Masyarakat Agromaritim IPB University, Dr Hadian Purwangsa, melaporkan bahwa tim pengembara telah dipersiapkan secara matang. Para pengembara menggunakan metodologi Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengidentifikasi unggulan lokal di tiap daerah.
“Kekuatan program ini adalah adanya empat orang pengembara di setiap lokasi selama empat bulan penuh. Dengan dukungan tim dapur, para ahli bisa fokus pada substansi sehingga hasil kajian akan lebih kuat dan berdampak,” ujarnya.
Dr Hadian mengatakan bahwa IPB University mengembangkan empat model pengabdian masyarakat dalam ekspedisi ini, yaitu Abdimas Berdaya, Abdimas 4.0, Abdimas Nusantara, dan Abdimas Kolaboratif.
Empat model ini diarahkan untuk memperkuat transformasi desa, ketahanan pangan, dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).




