Kapal ini mampu meningkatkan jarak tempuh lebih jauh sekaligus hemat energi. Kapal hybrid ini mampu beroperasi selama 10 hari, menampung hasil tangkap hingga dua ton, serta memiliki sistem penggerak layar dan listrik sehingga menghemat bahan bakar minyak hingga 76% tiap perjalanan, menurut Nanang.
Sebanyak 80 persen nelayan tradisional masih bergantung pada kapal berbahan bakar fosil. Kondisi ini menjadi tantangan utama sektor perikanan tangkap dan berdampak pada tingginya biaya operasional serta kualitas hasil tangkapan. Untuk itu, diperlukan inovasi teknologi di bidang kapal tangkap.

Untuk menekan biaya operasional nelayan dan meningkatkan mutu hasil tangkap, dibutuhkan kapal tangkap dengan teknologi terkini yang mengedepankan penggunaan energi baru terbarukan serta ”dilengkapi dengan fasilitas monitoring berbasis digital,” kata Kepala Pusat Teknologi Proses BRIN, Hens Saputra, dalam webinar Energi Manufaktur (ENMA) Edisi 03, Rabu (18/2).
Untuk mewujudkan hal tersebut, kata Hens, diperlukan kolaborasi pentahelix antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, media dan komunitas nelayan.
Kepala PRTH BRIN, Teguh Muttaqie, menyampaikan bahwa BRIN perlu berkolaborasi dengan asosiasi dan mitra-mitra strategis untuk mengetahui kebutuhan teknologi yang dibutuhkan untuk nelayan saat ini.




