Risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.
Untuk mencegah infeksi hantavirus, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi.
Area tersebut sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.
Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health, menurut Arief, menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus.
Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar,” ujarnya.
Penelitian mengenai hantavirus di Indonesia sebenarnya telah dilakukan sejak 1991 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan, khususnya di wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.

Penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya pemantauan penyakit zoonosis dan identifikasi rodensia yang berpotensi menjadi reservoir virus di Indonesia.
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui rodensia atau hewan pengerat, terutama tikus liar.




